AYAT-AYAT BERKENAAN DENGAN KEUTAMAAN TABLIQ/BERDAKWAH Ayat Pertama (orang-orang yang perkataannya dinilai terbaik disisi Allah, SWT)

 

 وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلاً مَّمَّنْ دَعَآ ٳِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَلِحًا وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ ٳِنِّنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

 {فُصِّلَتْ : ٣٣}

Artinya :

Dan siapakah yang lebih baik perkataanya dari pada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal Shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri (muslimin)” (QS. AL Fusilat ayat 33)

 

Sebagian ahli tafsir menafsirkan, bahwa barang siapa yang mengajak manusia ke jalan Allah, SWT dengan cara apapun, maka ia berhak mendapatkan kerhormatan ayat diatas. Minsalnya para Nabi, ‘Alaihimusalaatu Wassalam berdakwah dengan menggunakan mukjizatnya, para ulama berdakwah dengan dalil dan hujah-hujahnya, para mujahid berdakwah dengan pedangnya, para mu’azin berdakwah dengan adzanya. Ringkasnya, siapa saja yang mengajak manusia kepada Allah, SWT, maka ia berhak mendapatkan kehormatan tesebut, baik mengajak kearah amalan-amalan zahir dalam Islam, maupun kepada amalan-amalan batin seperti para Sufi yang mengajak kepada makrifatullah.

 

Gambar oleh Amber Clay dari Pixabay 


Sebagian Ahli Tafsir menyatakan bahwa, ayat”wa qaala innanii minal muslimin” yang artinya, “Dan ia berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin)”, menunjukan bahwa seorang muslim patutlah merasa bangga dengan ke Islamanan yang diberikan Allah kepadanya, dan ia harus menampakan kemulyaan ini dengan penuh kebanggaan. Beberapa ahli tafsir lainya menafsirkan bahwa dalam setiap kegiatan dakwah dan tabliq, hendaklah kita tidak sombong merasa telah menjadi seorang mubaligh, malah seharusnya kita merasa rendah hati, dengan menganggap bahwa diri kita adalah seorang muslimin sebagaimana muslimin lainya.

 

Ayat Kedua

(Peringatan bukan hanya untuk orang-orang yang tidak ber Iman tapi juga orang yang sudah memiliki iman dihatinya)

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَفْعُ المُؤْمِنِيْنَ {الذَّارِيَتْ:٥٥}

Artinya :

” Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Dzariat ayat 55)

 

Ahli Tafsir menulis, bahwa ayat ini mengandung maksud bahwa mentabliqkan ajaran Islam berarti memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Al Qur’an dan tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi mereka. Bahkan akan bermanfaat juga bagi mereka yang tidak ber Iman, karena dengan upaya seperti ini Insya’ Allah mereka juga akan menjadi orang yang ber Iman.

Sayangnya, pada zaman ini jalan menuju berdakwah dan bertabliq hampir tertutup. Tabliq tidak mendapatkan posisi perhatian yang baik. Bahkan ada mubaligh yang hanya ingin menunjukan kefasihan dan kepandaian mereka berbicara saja. Pada Rasullulah, SAW telah bersabda, yang artinya: “Barang siapa belajar seni pidato dan ungkapa kata, namun untuk mendapatkan pujian manusia, maka amal ibadahnya baik yang fardhu maupun yang sunnat tidak akan diterima pada hari Kiamat”.

 

Ayat Ke Tiga (berdakwah dengan sabar adalah kewajiban umat Islam)

وَأْمُرْاهْلَكَ بِاصَّلوٰةِ وَاصْطَبِرِ عَلَيْهَا لاَنَسْئَلُكَ رِزْقَا ؕنَحْنُ نَرْزُقُكَؕو ؕ وَالعَاقِبَةُ لِلْتًقْوَى {طَهَ : ١٤٢}

Artinya :

“Dan suruhlah keluargamu (umatmu) dengan shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rizky kepada engkau, kamilah yang memberi rizky kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Thaha: 241)

 

Banyak Hadist yang menyebutkan bahwa dahulu, jika orang mengadu kepada Rasullulah, SAW mengenai kesempitan hidupunya, maka beliau akan membaca ayat ini dan menasehatinya agar selalu mengerjakan Shalat dengan tertib. Ini menunjukan bahwa Shalat yang dilakukan dengan tertib dapat membawa kepada kelapangan rezeki.

 

Ulama mengaskan bahwa ayat ini juga berarti, disamping kita menyeru orang lain untuk melakukan amalan, kita harus lebih dahulu mengamalkannya. Para Nabi diutus untuk menjadi contoh bagi para pengikutnya dan mereka lebih dahulu mengamalkan apa-apa yang mereka sampaikan kepada orang lain, sehingga para pengikutnya berfikir bahwa ajaran Agama itu mudah untuk dikerjakan, dan mereka tidak akan mengatakan bahwa hukum-hukum Agama susah untuk di amalkan.

 

Dalam ayat diatas Allah, SWT telah berjanji akan memberikan nikmat rezeky kepada orang-orang yang mendirikan shalat pada waktunya dengan cara yang tertib. Sedangkan bagi orang yang tidak memperhatikan Shalat pada waktunya, Allah SWT akan memberikan kerugian dalam hidupnya. Jangan kita menyangka, bahwa Shalat akan menghalangi kita untuk mencari nafkah, berdagang atau melakukan pekerjaan lainya. Mencari nafkah itu perlu, tetapi sadarilah bahwa Shalat merupakan kewajiban dan tanggungjawab kita semua. Disebutkan pula bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya hanya akan dicapai oleh mereka yang bertaqwa. Selain mereka, tidak ada lagi yang mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.

 

Ayat ke empat (berdakwah dengan sabar adalah kewajiban umat Islam)

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلوٰةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِوَاصْبِرْعَلَى مَآ ٲَصْابَكَ ؕ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ  {لُقْمَانْ:٧١}

Artinya:

“Hai anakku, dirikanlah Shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah urusan yang di utamakan”

Dalam ayat ini, hal-hal yang paling penting bagi seorang muslim telah disebutkan dengan jelas, dan hal-hal itulah yang dapat menjadi penyebab tercapainya kebahagiaan yang sempurna. Namun kita telah melalaikannya. Telah disebutkan sebelumnya sebagaimana amar ma’ruf nahi mungkar hampir ditinggalkan. Bahkan shalat yang merupakan amalan terpenting setelah iman, juga telah kita lalaikan. Banyak muslim yang sama sekali tidak menunaikan Shalat, dan ada yang Shalat tapi tidak mengerjakannya dengan tertib, terutama dalam hal Shalat berjama’ah di masjid, orang-orang kaya dan orang-orang penting merasa hina untuk menunaikan Shalat berjama’ah di Masjid. Maka hanya kepada Allah SWT sajalah aku mengadu.

Sebuah Syair mengungkapkan,

Wahai Insan yang lalai!

Apa yang menjadi kehinaan bagimu

Adalah menjadi kebanggaan bagiku !

Ayat ke lima

(Orang yang paling beruntung adalah orang yang menegakan amar ma’ruf nahi mungkar)

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ؕ وَاُلٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ  {اَلِ عِمْرَانْ:١.٤}

Artinya :

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru (manusia) kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung”  ( QS. Al Imran ayat 104)

 

Dialam ayat ini Allah, SWT dengan tegas memerintahkan umat Islam agar bersama-sama mendakwahkan Dinul Islam ke seluruh Dunia. Tetapi sayang, pada umumnya kita telah melalaikan perintah ini. Sebalikanya orang-orang Non Muslim sangat memperhatikan hal ini, minsalnya para misionaris Agama Kristen, mereka telah disiapkan menyebarkan Agama mereka keseluruh Dunia dengan penuh kesungguhan. Begitu juga dengan Agama lainnya mereka telah menyiapkan para penyebar Agamanya.

Tetapi, adakah dikalangan umat Islam suatu kumpulan suatu usaha semacam itu ?. Kalaupun ada, seorang atau suatu kumpulan dari orang muslim yang berusaha mentabliqkan ajaran Islam, bukanya bantuan dan kerjasama yang diterima, malah berbagai macam halangan dan rintangan yang timbul.

Bahkan anehnya halangan dan rintangan itu justru, muncul dari mereka yang melalaikan tugas dakwah. Akibatnya para mubaligh berputus asa dan meninggalkan usaha yang mulya ini. Sebenarnya, sudah menjadi kewajiban penting bagi setiap muslim untuk membantu mereka yang benar-benar mentablighkan Islam.

Ayat ke enam (Umat Islam dispesialkan untuk menjadi Da’i)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُونَ بِا للّٰهِ

   {آلِ عِمْرَانْ: .١١}

Artinya:

Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh (berbuat) kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah” (QS. Al Imran ayat 110)

 

Banyak hadist-hadist Rasullulah SAW, yang menjelaskan, bahwa umat Islam adalah umat yang paling mulya diantara umat-umat lainnya. Begitu juga didalam Al-Qur’an banyak ayat yang menguatkan hal ini, baik secara jelas maupun secara isyarat. Pada ayat di atas Allah, SWT telah memberikan kehormatan kepada kita sebagai umat yang terbaik. Dan Allah ta’ala telah menyebutkan syaratnya, yaitu selama kita berdakwah menyeru umat kepada kebaikan, dan mencegah mereka dari kemungkaran.

Para ahli tafsir menafsirkan bahwa dalam ayat ini kata-kata amar ma’ruf nahi mungkar disebutkan lebih dahulu dari pada keimanan. Padahal, iman adalah pangkal segala sesuatu, tanpa iman kebaikan apapun tidak ada nilainya. Jawaban untuk hal ini adalah sebab Iman sudah ada dalam kehidupan umat-umat terdahulu sebelum kita, tetapi ada sesuatu hal yang khusus yang membedakan umat Muhammad, SAW dengan umat-umat sebelumnya, hal ini adalah tugas amar ma’ruf nahi mungkar. Dan ternyata inilah yang menyebabkan umat Muhammad, SAW istimewa dari umat-umat sebelumnya, tentu jika tugas ini benar-benar kita lakoni. Dan Iman dalam ayat ini tetap disebutkan lantaran tidak ada sesuatu apapun dapat bernilai ibadah tanpa adanya Iman di hati.

Jadi, maksud utama ayat ini adalah menegaskan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar, karena itulah perkara tersebut dibuat terlebih dahulu.

Maka agar umat ini menjadi lebih utama dari pada umat lainnya, kita harus menaati tanggungjawab ini. Kalau tidak, maka tidaklah layak kita mendapatkan kehormatan sebagai umat terbaik itu. Sebagaiman terdahulu pernah terjadi pada para sahabat Rasulullah, SAW ketika suatu ketika mereka mulai melalaikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar, Allah, SWT mengingatkan dalam firmanya:

فَلَمًا نَسُوْامَاذُكَرُوْبِهِ

“Ketika mereka lalai dari mengingatkan”

Peringatan seperti itu banyak terdapat pada ayat-ayat lain. Perlu kita ingat bahwa tugas amar ma’ruf nahi mungkar ini tidak cukup diamalkan beberapa kali saja, tetapi juga harus diamalkan secara terus menerus, karena tugas ini bukanlah tugas sementara, tetapi merupakan tugas kita hingga mati.

 

Ayat ke Tujuh (Pahala yang besar untuk orang yang menjadi Da’i)

لاَخَيْرَفِى كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُم إلاَّمِنْ أَوْمَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلاَحِ بَيْنَ النَّاسِ ؕ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِلغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أجْرًا عَظِيْمَاً  {النِّسَاّءْ : ١١٤}

Artinya :

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh (manusia) memberikan sedekah atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mengharap keridhaan Allah, SWT maka kami akan memerikannya pahala yang besar” (QS. An Nisa’ : 114)

 

Dalam ayat Allah, SWT berjanji akan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang mendakwahkan kebenaran. Seberapa pahala yang dikatakan “Besar” oleh Allah, SWT.

Dalam menafsirkan ayat ini, Rasulullah, SAW bersabda: “Ucapan seseorang itu mungkin menjadi dosa baginya, kecuali ucapan-ucapan yang diucapkan untuk memberi peringatan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau berdzikir kepada Allah, SWT”

Dalam hadist lain Rasulullah, SAW bersabda :”Maukah saya beritahukan kepada kalian suatu kebaikan yang lebih utama dari pada Shalat, Puasa dan Sedekah ?”, para sahabat menjawab, “Beritahukanlah kebaikan itu kepada kami wahai Rasulullah !” Beliau bersabda, “Damaikanlah sesama manusia, karena kebencian dan pertengkaran dapat memusnahkan amal baik seseorang, sebagaimana pisau mencukur rambut”.

Masih banyak ayat Al Qur’an dan Hadist Rasulullah, SAW yang memerintahkan kita untuk mendamaikan sengketa antara sesama manusia dan menganjurkan kasih sayang dan cinta mencintai. Yang perlu kita tekankan disini adalah, bahwa menganjurkan kasih sayang ditengah umat termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan ini merupakan suatu kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu kita berusaha untuk mewujudkan perdamaian dan memeliharanya dengan sungguh-sungguh.

Komentar