AYAT-AYAT BERKENAAN DENGAN KEUTAMAAN TABLIQ/BERDAKWAH Ayat Pertama (orang-orang yang perkataannya dinilai terbaik disisi Allah, SWT)
{فُصِّلَتْ : ٣٣}
Artinya :
“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya dari pada
orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal Shaleh dan
berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri (muslimin)” (QS.
AL Fusilat ayat 33)
Sebagian ahli tafsir menafsirkan,
bahwa barang siapa yang mengajak manusia ke jalan Allah, SWT dengan cara
apapun, maka ia berhak mendapatkan kerhormatan ayat diatas. Minsalnya para
Nabi, ‘Alaihimusalaatu Wassalam berdakwah dengan menggunakan
mukjizatnya, para ulama berdakwah dengan dalil dan hujah-hujahnya, para mujahid
berdakwah dengan pedangnya, para mu’azin berdakwah dengan adzanya. Ringkasnya,
siapa saja yang mengajak manusia kepada Allah, SWT, maka ia berhak mendapatkan
kehormatan tesebut, baik mengajak kearah amalan-amalan zahir dalam Islam,
maupun kepada amalan-amalan batin seperti para Sufi yang mengajak kepada makrifatullah.
Sebagian Ahli Tafsir menyatakan
bahwa, ayat”wa qaala innanii minal muslimin” yang artinya, “Dan ia
berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin)”,
menunjukan bahwa seorang muslim patutlah merasa bangga dengan ke Islamanan yang
diberikan Allah kepadanya, dan ia harus menampakan kemulyaan ini dengan penuh
kebanggaan. Beberapa ahli tafsir lainya menafsirkan bahwa dalam setiap kegiatan
dakwah dan tabliq, hendaklah kita tidak sombong merasa telah menjadi seorang
mubaligh, malah seharusnya kita merasa rendah hati, dengan menganggap bahwa
diri kita adalah seorang muslimin sebagaimana muslimin lainya.
Ayat Kedua
(Peringatan
bukan hanya untuk orang-orang yang tidak ber Iman tapi juga orang yang sudah
memiliki iman dihatinya)
وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى
تَفْعُ المُؤْمِنِيْنَ {الذَّارِيَتْ:٥٥}
Artinya :
” Dan berilah peringatan, sesungguhnya
peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.
Dzariat ayat 55)
Ahli Tafsir menulis, bahwa ayat
ini mengandung maksud bahwa mentabliqkan ajaran Islam berarti memberi
peringatan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Al Qur’an dan tentu
saja hal ini sangat bermanfaat bagi mereka. Bahkan akan bermanfaat juga bagi
mereka yang tidak ber Iman, karena dengan upaya seperti ini Insya’ Allah
mereka juga akan menjadi orang yang ber Iman.
Sayangnya, pada zaman ini jalan
menuju berdakwah dan bertabliq hampir tertutup. Tabliq tidak mendapatkan posisi
perhatian yang baik. Bahkan ada mubaligh yang hanya ingin menunjukan kefasihan
dan kepandaian mereka berbicara saja. Pada Rasullulah, SAW telah bersabda, yang
artinya: “Barang siapa belajar seni pidato dan ungkapa kata, namun untuk
mendapatkan pujian manusia, maka amal ibadahnya baik yang fardhu maupun yang
sunnat tidak akan diterima pada hari Kiamat”.
Ayat Ke Tiga
(berdakwah dengan sabar adalah kewajiban umat Islam)
وَأْمُرْاهْلَكَ بِاصَّلوٰةِ وَاصْطَبِرِ
عَلَيْهَا لاَنَسْئَلُكَ رِزْقَا ؕنَحْنُ نَرْزُقُكَؕو ؕ وَالعَاقِبَةُ لِلْتًقْوَى {طَهَ : ١٤٢}
Artinya :
“Dan suruhlah keluargamu (umatmu)
dengan shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rizky kepada engkau,
kamilah yang memberi rizky kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu bagi
orang-orang yang bertaqwa” (QS. Thaha: 241)
Banyak Hadist yang menyebutkan
bahwa dahulu, jika orang mengadu kepada Rasullulah, SAW mengenai kesempitan
hidupunya, maka beliau akan membaca ayat ini dan menasehatinya agar selalu
mengerjakan Shalat dengan tertib. Ini menunjukan bahwa Shalat yang dilakukan
dengan tertib dapat membawa kepada kelapangan rezeki.
Ulama mengaskan bahwa ayat ini
juga berarti, disamping kita menyeru orang lain untuk melakukan amalan, kita
harus lebih dahulu mengamalkannya. Para Nabi diutus untuk menjadi contoh bagi
para pengikutnya dan mereka lebih dahulu mengamalkan apa-apa yang mereka
sampaikan kepada orang lain, sehingga para pengikutnya berfikir bahwa ajaran
Agama itu mudah untuk dikerjakan, dan mereka tidak akan mengatakan bahwa
hukum-hukum Agama susah untuk di amalkan.
Dalam ayat diatas Allah, SWT
telah berjanji akan memberikan nikmat rezeky kepada orang-orang yang mendirikan
shalat pada waktunya dengan cara yang tertib. Sedangkan bagi orang yang tidak
memperhatikan Shalat pada waktunya, Allah SWT akan memberikan kerugian dalam
hidupnya. Jangan kita menyangka, bahwa Shalat akan menghalangi kita untuk
mencari nafkah, berdagang atau melakukan pekerjaan lainya. Mencari nafkah itu
perlu, tetapi sadarilah bahwa Shalat merupakan kewajiban dan tanggungjawab kita
semua. Disebutkan pula bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya hanya akan dicapai
oleh mereka yang bertaqwa. Selain mereka, tidak ada lagi yang mendapatkan
kebahagiaan yang sebenarnya.
Ayat ke
empat (berdakwah dengan sabar adalah kewajiban umat Islam)
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلوٰةَ وَأْمُرْ
بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِوَاصْبِرْعَلَى مَآ ٲَصْابَكَ ؕ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ {لُقْمَانْ:٧١}
Artinya:
“Hai anakku, dirikanlah Shalat
dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah urusan yang di utamakan”
Dalam ayat ini, hal-hal yang
paling penting bagi seorang muslim telah disebutkan dengan jelas, dan hal-hal
itulah yang dapat menjadi penyebab tercapainya kebahagiaan yang sempurna. Namun
kita telah melalaikannya. Telah disebutkan sebelumnya sebagaimana amar ma’ruf
nahi mungkar hampir ditinggalkan. Bahkan shalat yang merupakan amalan
terpenting setelah iman, juga telah kita lalaikan. Banyak muslim yang sama
sekali tidak menunaikan Shalat, dan ada yang Shalat tapi tidak mengerjakannya
dengan tertib, terutama dalam hal Shalat berjama’ah di masjid, orang-orang kaya
dan orang-orang penting merasa hina untuk menunaikan Shalat berjama’ah di
Masjid. Maka hanya kepada Allah SWT sajalah aku mengadu.
Sebuah Syair mengungkapkan,
Wahai Insan yang lalai!
Apa yang menjadi kehinaan bagimu
Adalah menjadi kebanggaan bagiku
!
Ayat ke lima
(Orang yang
paling beruntung adalah orang yang menegakan amar ma’ruf nahi mungkar)
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ
يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ ؕ وَاُلٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ {اَلِ عِمْرَانْ:١.٤}
Artinya :
“Dan hendaklah ada diantara
kamu segolongan umat yang menyeru (manusia) kepada kebaikan, menyuruh kepada
yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang
beruntung” ( QS. Al Imran ayat 104)
Dialam ayat ini Allah, SWT dengan
tegas memerintahkan umat Islam agar bersama-sama mendakwahkan Dinul Islam
ke seluruh Dunia. Tetapi sayang, pada umumnya kita telah melalaikan perintah
ini. Sebalikanya orang-orang Non Muslim sangat memperhatikan hal ini, minsalnya
para misionaris Agama Kristen, mereka telah disiapkan menyebarkan Agama mereka
keseluruh Dunia dengan penuh kesungguhan. Begitu juga dengan Agama lainnya
mereka telah menyiapkan para penyebar Agamanya.
Tetapi, adakah dikalangan umat
Islam suatu kumpulan suatu usaha semacam itu ?. Kalaupun ada, seorang atau
suatu kumpulan dari orang muslim yang berusaha mentabliqkan ajaran Islam,
bukanya bantuan dan kerjasama yang diterima, malah berbagai macam halangan dan
rintangan yang timbul.
Bahkan anehnya halangan dan
rintangan itu justru, muncul dari mereka yang melalaikan tugas dakwah.
Akibatnya para mubaligh berputus asa dan meninggalkan usaha yang mulya ini.
Sebenarnya, sudah menjadi kewajiban penting bagi setiap muslim untuk membantu
mereka yang benar-benar mentablighkan Islam.
Ayat ke enam
(Umat Islam dispesialkan untuk menjadi Da’i)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُونَ
بِا للّٰهِ
{آلِ عِمْرَانْ: .١١}
Artinya:
“Kalian adalah sebaik-baiknya
umat yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh (berbuat) kebaikan dan
mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah” (QS. Al Imran
ayat 110)
Banyak hadist-hadist Rasullulah
SAW, yang menjelaskan, bahwa umat Islam adalah umat yang paling mulya diantara
umat-umat lainnya. Begitu juga didalam Al-Qur’an banyak ayat yang menguatkan
hal ini, baik secara jelas maupun secara isyarat. Pada ayat di atas Allah, SWT
telah memberikan kehormatan kepada kita sebagai umat yang terbaik. Dan Allah
ta’ala telah menyebutkan syaratnya, yaitu selama kita berdakwah menyeru umat
kepada kebaikan, dan mencegah mereka dari kemungkaran.
Para ahli tafsir menafsirkan
bahwa dalam ayat ini kata-kata amar ma’ruf nahi mungkar disebutkan lebih
dahulu dari pada keimanan. Padahal, iman adalah pangkal segala sesuatu, tanpa
iman kebaikan apapun tidak ada nilainya. Jawaban untuk hal ini adalah sebab
Iman sudah ada dalam kehidupan umat-umat terdahulu sebelum kita, tetapi ada
sesuatu hal yang khusus yang membedakan umat Muhammad, SAW dengan umat-umat
sebelumnya, hal ini adalah tugas amar ma’ruf nahi mungkar. Dan ternyata
inilah yang menyebabkan umat Muhammad, SAW istimewa dari umat-umat sebelumnya,
tentu jika tugas ini benar-benar kita lakoni. Dan Iman dalam ayat ini tetap
disebutkan lantaran tidak ada sesuatu apapun dapat bernilai ibadah tanpa adanya
Iman di hati.
Jadi, maksud utama ayat ini
adalah menegaskan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar, karena itulah perkara
tersebut dibuat terlebih dahulu.
Maka agar umat ini menjadi lebih
utama dari pada umat lainnya, kita harus menaati tanggungjawab ini. Kalau
tidak, maka tidaklah layak kita mendapatkan kehormatan sebagai umat terbaik
itu. Sebagaiman terdahulu pernah terjadi pada para sahabat Rasulullah, SAW
ketika suatu ketika mereka mulai melalaikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar,
Allah, SWT mengingatkan dalam firmanya:
فَلَمًا نَسُوْامَاذُكَرُوْبِهِ
“Ketika
mereka lalai dari mengingatkan”
Peringatan seperti itu banyak
terdapat pada ayat-ayat lain. Perlu kita ingat bahwa tugas amar ma’ruf nahi
mungkar ini tidak cukup diamalkan beberapa kali saja, tetapi juga harus diamalkan
secara terus menerus, karena tugas ini bukanlah tugas sementara, tetapi
merupakan tugas kita hingga mati.
Ayat ke
Tujuh (Pahala yang besar untuk orang yang menjadi Da’i)
لاَخَيْرَفِى كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُم
إلاَّمِنْ أَوْمَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلاَحِ بَيْنَ النَّاسِ ؕ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ
ابْتِلغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أجْرًا عَظِيْمَاً
{النِّسَاّءْ : ١١٤}
Artinya :
“Tidak ada kebaikan pada
kebanyakan bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh (manusia) memberikan sedekah
atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang
siapa yang berbuat demikian karena mengharap keridhaan Allah, SWT maka kami
akan memerikannya pahala yang besar” (QS. An Nisa’ : 114)
Dalam ayat Allah, SWT berjanji
akan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang mendakwahkan kebenaran.
Seberapa pahala yang dikatakan “Besar” oleh Allah, SWT.
Dalam menafsirkan ayat ini,
Rasulullah, SAW bersabda: “Ucapan seseorang itu mungkin menjadi dosa
baginya, kecuali ucapan-ucapan yang diucapkan untuk memberi peringatan kepada
kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau berdzikir kepada Allah, SWT”
Dalam hadist lain Rasulullah, SAW
bersabda :”Maukah saya beritahukan kepada kalian suatu kebaikan yang lebih
utama dari pada Shalat, Puasa dan Sedekah ?”, para sahabat menjawab,
“Beritahukanlah kebaikan itu kepada kami wahai Rasulullah !” Beliau bersabda, “Damaikanlah
sesama manusia, karena kebencian dan pertengkaran dapat memusnahkan amal baik
seseorang, sebagaimana pisau mencukur rambut”.
Masih banyak ayat Al Qur’an dan
Hadist Rasulullah, SAW yang memerintahkan kita untuk mendamaikan sengketa
antara sesama manusia dan menganjurkan kasih sayang dan cinta mencintai. Yang
perlu kita tekankan disini adalah, bahwa menganjurkan kasih sayang ditengah
umat termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan ini merupakan suatu kebaikan yang
sangat besar. Maka dari itu kita berusaha untuk mewujudkan perdamaian dan
memeliharanya dengan sungguh-sungguh.

Komentar
Posting Komentar