عَنْ سَلْمَانَ رضِبىَ الله عَنَهُ قَالَ : خَطَبَنَا
رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلَمْ فِى أَخِرِ يَوْمٍ مِّنَ شَعْبَانَ فَقَالَ
يآيُّهَا النَّاسُ قَذ
أَظَلَّكُمْ شَهْرعَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرَ مِّنْ أَلْفِ شَهْرِشَهْرٌ
جَعَلَ الله صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعَا مَنْ تَقَرَّبَ
فِيْهِ بِخَصْلَةٍ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً
فِى
مَا سَوَاهُ مَنْ اَدَّى فَرِيضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ اَدًى
سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَاسِوَاهُ وَهُوَسَهْرُ الصَبْرِوالصَبْرُ ثَوَابُهُ جَنَّةُ
وَشَهَرُ الْمُوَاسَاةِ وَشَهْرٌيُزَادُ فِى رِزْقُ الْمُؤْمِنِ فِيْهِ مَنْ فَطَّرَ
فِيْهِ صَائِمَا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ
وَكَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنَ أَجْرِهِ ِشَيْءٌ :
قَالُوْ:يَا رَسُوْلُ الله لَيْسَ كُلَّنا يُجِدُ مَايُفَطِّرُ الصَّائِمَ.
فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلَمْ : يُعطِى الله هَذَا الثَّوَابَ
مَنْ فَطَّرَ صَّائِمًا عَلَى تَمْرَةٌ أَوْ شَرْبَهِ مَاءٍ أَوْمَذْقَةِ لَبَنٍ
وَهُوَ شَهْرٌ أَوْلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهُ عِتْقٌ مٍنَ
النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَّمْلُوْكِهِ فِيْهِ عَفَرَاللّٰهُ لَهُ أَعْتَقَهُ
مِنَ النَّارِوَاسْتَكْثِرُوْافِيْهِ مِنْ أَرَبَعِ خِصَالٍ خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ
بِهِمَا ربَكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَغِنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ
الَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَكُمْ فَشَهَادَةٌ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلَّا للّٰهُ
وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ الَّتَانِ اللقان لا غِنَاءَ بِكُمْ
عَنْهُمَافَسْئَلُوْنَ الله الجَنَّةَ وتَعَوَدُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَمَنْ سَقَى
صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِى بَشَرْبَةً لَا يَظْمَأُحَتَّى يَدْخُلَ الجنةْ
{رواه ابن خزيمة وراه البيهقى}
Diriwayatkan dari Salman r.a., dia berkata,
"Rasulullah s.a.w. telah memberi khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya'ban, kemudian
beliau bersabda, “Wahai manusia, sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung
lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik
dari pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah telah menjadikan puasa
sebagai fardhu dan bangun malam sebagai sunnat. Barangsiapa yang mendekatkan
diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah maka (pahalanya) seperti orang
yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa melakukan
amalan fardhu di dalamnya maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan tujuh
puluh amalan fardhu pada bulan lainnya. Inilah bulan kesabaran, dan pahala
sabar adalah
surga. Inilah bulan kasih-sayang, bulan saat rezeky seorang mukmin ditambahkan.
Barang siapa pada bulan tersebut memberi buka kepada Orang yang
berpuasa maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan
mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurang pahala orang
itu Mereka berkata. "Wahai Rasulullah, tidak
setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka
puasa.’ Beliau bersabda, 'Allah memberikan pahala kepada orang
yang membera buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau
sesisip susu. Inilah bulan yang awal nya penuh rahmat,
tengahnya penuh ampunan, dan akhirnya penuh kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa meringankan beban hamba-hamba sahayanya pada bulan itu maka
Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.
Perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal. Dua diantaranya dapat
menyukakan Tuhannya dan dua hal lainnya kamu pasti berhajat kepadanya. Adapun
dua hal yang dengannya kamu dapat menyukakan Tuhanmu adalah: bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kamu memohon ampun kepadaNya.
Sedangkan dua hal yang kamu pasti berhajat kepadanya adalah: kamu
memohon surga kepada Allah dan kamu berlindung kepada-Nya dari neraka.
Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan
memberinya minum seteguk dari telagaku dimana ia tidak akan haus
hingga masuk surga"
ULASAN
Terdapat sedikit perbedaan di kalangan para ahli hadits
mengenal makna hadits di atas. Tetapi karena keutamaan isinya dan Juga telah dikuatkan
oleh banyak hadits lainnya, sehingga hadits ini dapat mereka terima.
Dari hadits di atas banyak sekali permasalahan yang dapat
kita ketahui. Pertama, betapa besar perhatian Rasulullah s.a.w. terhadap bulan Ramadhan
sehingga beliau telah berkhutbah mengenainya sejak akhir bulan Sya'ban. Dan
secara khusus, Rasulullah SAW. telah menasehati dan memperingatkan para
sahabatnya agar jangan sampai melewatkan satu detik pun pada bulan Ramadhan
yang penuh berkah ini dengan kelalaian. Setelah memberikan nasihat tersebut,
Rasulullah s.a.w. menerangkan keutamaan bulan Ramadhan dengan panjang lebar dan
sekaligus memberikan petunjuk untuk mengerjakan beberapa amalan.
Yang pertama dari beberapa keutamaan bulan Ramadhan
adalah malam Lailatul-Qadar yang keutamaannya secara khusus akan diterangkan dalam
fasal selanjutnya pada lembaran berikut ini. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda
bahwa Allah SWT. telah mewajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan Allah telah
menjadikan shalat Tarawjh pada malam harinya sebagai sunnah. Hal tersebut
betul-betul ditegaskan oleh Rasulullah SAW sehingga semua imam madzhab
bersepakat bahwa shalat Tarawih adalah sunnah. Dalam kitab Al-Burhan
telah ditulis bahwa seluruh kaum muslimin, kecuali kaum Rawafidh, tidak seorang
pun yang menolak kesepakatan tersebut.
Maulana Syah Abdul Hag Muhaddits Dahlawi rah.a. dalam
kitab Matsabata bis sunnah, yaitu dalam kitab figih telah menulis di
dalamnya bahwa jika suatu masyarakat kota meninggalkan shalat Tarawih, maka pemerintah
hendaknya memaksa mereka untuk mengadakannya.
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan di sini:
Pada umumnya orang berpendapat bahwa hanya dengan mendengarkan Al-Qur’an dibacakan
dalam shalat Tarawih di suatu masjid selama delapan atau sepuluh hari adalah
telah mencukupi untuk mendapatkan pahala sunnah. Padahal sebenarnya ada dua
sunnah yang berbeda. Pertama adalah sunnah mendengarkan atau membaca seluruh
Al-Qur'an di dalam shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Dan yang kedua adalah
shalat Tarawih pada setiap malam dalam bulan Ramadhan. Seperti inilah yang
hendaknya dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni tidak meninggalkan salah satu di
antara amalan tersebut.
Bagi orang yang dalam bulan Ramadhan sedang bersafar atau
berpergian, atau dalam keadaan yang menyebabkan ia tidak bisa melaksanakan
shalat Tarawih di suatu tempat, maka lebih baik baginya untuk membaca Al-Qur'an
dalam beberapa hari pada permulaan Ramadhan sehingga tidak mengurangi bacaan
Al-Qur’an-nya. Apabila ada kesempatan dimana saja untuk melaksanakan shalat
Tarawih, hendaknya kita tidak ketinggalan mendengarkan bacaan Al-Ouran dalam
Tarawih, dan pekerjaan kita juga tidak terbengkalai.
Setelah Rasulullah s.a.w. menerangkan tentang puasa dan
Tarawih. Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk melaksanakan ibadah fardhu
dan sunnah-sunnah lainnya. Pahala mengerjakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan
disamakan dengan pahala mengerjakan amalan wajib pada selain bulan Ramadhan,
dan pahala mengerjakan satu amalan wajib pada bulan Ramadhan disamakan dengan
pahata mengerjakan tujuh puluh amalan wajib di luar bulan Ramadhan.
Dalam hal ini kita mesti memikirkan tentang kcadaan
ibadah kita. Kita memerlukan amalan shalih. Oleh karena itu dalam bulan yang penuh
keberkahan ini seharusnya kita memikirkan seberapa jauhkah perhatian kita dalam
menyempurnakan kewajiban dan dalam menambah amaian-amalan sunnah.
Salah satu contoh tentang keadaan kita saat ini dalam
melaksanakan kewajiban adalah dalam mengerjakan shalat Shubuh. Setelah
mengerjakan sahur, kita melanjutkan tidur lagi sehingga shalat Shubuh
terlewatkan. Shalat berjamaah pun akhirnya sering tertinggal. Seharusnya kita
bersyukur kepada Allah s.w.t. yang dengan kekuasaannya telah menentukan kewajiban
kepada kita dan memberikan kenikmatan makan sahur. Cara mensyukuri nikmat-Nya
adalah dengan menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan kepada kita. Tetapi
ternyata sedikit demi sedikit justru kita meninggalkan kewajiban tersebut dan
menggadhanya pada lain waktu. Padahal para ahli ushul telah berpendapat bahwa
shalat tanpa berjama'ah adalah suatu kekurangan. Lagi pula Rasulullah s.a.w.
telah bersabda bahwa tidak ada shalat bagi mereka yang tinggal bersebelahan
dengan masjid kecuali shalat di masjid.
Dalam kitab Mazhahiril Hag ditulis bahwa jika seseorang mengerjakan
shalat tidak dengan berjama'ah tanpa alasan yang kuat, kewajiban shalatnya
sudah terpenuhi, tetapi pahalanya tidak ia dapatkan.
Begitu juga dengan shalat Maghrib, yang pada umumnya
disebabkan sibuk melakukan iftar (berbuka puasa) sehingga shalat berjama'ah di
masjid ditinggalkan. Yang pergi ke masjid pun tertinggal takbiratul-ula, bahkan
sampai tertinggal raka'at pertama shalat Maghrib. Demikian pula pada saat shalat
Isya', karena shalat Isya' begitu lama, maka banyak juga yang mengerjakan
shalat Isya' sebelum waktunya. Inilah keadaan amalan kita pada bulan Ramadhan
yang penuh berkah. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, maka tiga amalan
wajib lainnya diabaikan. Bahkan dari tiga amalan ini bisa menjadi lebih banyak
lagi. Juga pada saat shalat Dhuhur, karena kita tidur sebelum Dhuhur
(kailulah), maka shalat berjamaah Dhuhur pun tertinggal. Demikian pula dengan
shalat Ashar Karena sibuk mempersiapkan makanan untuk ifthar, sehingga shalat
berjama'ah Ashar Juga kita tinggalkan. Itulah hal-hal yang seharusnya kita
renungkan, yakni sejauh manakah perhatian kita dalam menunaikan kewajiban pada
bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika yang wajib saja demikian susah untuk
ditunaikan, maka bagaimana pula dengan yang sunnah? Shalat Isyraq dan shalat
Dhuha pada bulan Ramadhan sudah jelas sering kita tinggalkan karena tidur. Sedangkan
shalat Awwabin, bagaimana kita bisa memperhatikannya, sedangkan kita sibuk
dengan berbuka puasa? Karena khawatir dengan shalat Tarawih yang panjang
setelah itu, akhirnya shalat Awwabin pun ditinggalkan, dan shalat tahajjud kita
habis dipakai untuk makan sahur. Kemanakah amalan-amalan sunnah tersebut?
Beribu-ribu alasan bisa kita kemukakan untuk mengatakan
bahwa kita tidak memiliki waktu untuk mengerjakan amalan tersebut. Tetapi ternyata
banyak juga hamba-hamba Allah yang mempunyai waktu sehingga dapat melaksakan
amalan ibadah ini pada hari-hari yang berharga tersebut. Saya telah melihat
sendiri keadaan ustadz saya, Maulana Khalil Ahmad (Nawwarullahu marqadahu) pada
bulan-bulan Ramadhan. Walaupun dalam kondisi yang lemah, sakit, dan tua, tetapi
beliau mampu membaca atau memperdengarkan Al-Qur'an setiap hari selepas shalat Maghrib
pada bulan Ramadhan sebanyak satu seperempat juz. Setelah itu selama setengah
jam, beliau mempergunakan waktunya untuk makan dan mempersiapkan shalat
Tarawih. Beliau shalat tarawih selama dua setengah jam selama beliau berada di
India, dan selama liga jam ketika beliau tinggal di Madinah Munawwarah.
Kemudian beliau tidur dua atau tiga jam tergantung keadaan musimnya. Beliau
membaca Al-Qur'an di dalam shalat Tahajud selama satu setengah jam sebelum
Shubuh. Setelah itu, kadang- kadang beliau menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran
atau mengerjakan wirid dan dzikir sampai waktu Shubuh. Setelah shalat Shubuh, beliau
terus dalam keadan muragabah sampai waktu Isyraq (mulai terbit matahari).
Setelah Isyraq, beliau beristirahat kurang lebih satu jam lamanya. Setelah itu
beliau menyibukkan diri menulis sebuah kitab syarah hadits Abu Daud yaitu kitab
Badzlul Majhud atau membaca surat-surat dan menuliskan balasannya sampai pukul
dua belas siang pada musim dingin, jika musim panas sampai pukul satu. Kemudian
beliau beristirahat kembali sampai waktu Dhuhur. Dari Dhuhur hingga waktu
Ashar, beliau mempergunakan waktunya untuk membaca Al-Our'an. Mulai Ashar
hingga Maghrib beliau menyibukkan diri dengan berdzikir atau kadang-kadang berbincang
dengan para tamunya. Setelah menyelesaikan penulisan kitab Badzlul-Majhud,
beliau meluangkan waktu sedikit untuk membaca Al-Qur'an dan mengkaji beberapa
kitab agama lainnya. Pada waktu itu beliau sangat memperhatikan kitab Badzlul
Majhud dan Wafaa ul wafaa'. Inilah amalan yang tetap dilakukan
secara istiqamah oleh beliau dalam bulan- bulan Ramadhan dan tidak ada
perubahan dalam pengamalannya. Amalan-amalan sunnah tersebut beliau amalkan
secara terus menerus hingga sepanjang tahun. Dalam bulan Ramadhan, beliau
menambah jumlah rakaat shalat-shalat sunnahnya. Masih banyak lagi dari kalangan
Masyaikh yang dalam bulan Ramadhan memiliki amalan-amalan tertentu yang lebih banyak.
Jika kita mengikutinya tentu sangat sulit.
Maulana Syaikhul Hind rah.a setelah shalat Tarawih
menyibukkan diri dengan shalat-shalat sunnah hingga waktu shubuh. Setelah itu
beliau mendengarkan bacaan Al-Qur'an murid-muridnya, yakni para Hafidz Al-Qur'an.
Maulana Syaikh Abdurrahim Raipuri dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini
selalu menghabiskan masanya baik siang ataupun malam dengan membaca Al-Qur'an,
sehingga tidak ada waktu untuk menulis surat maupun berkunjung ke rumah orang
lain. Hanya khadim-khadimnya (pelayan-pelayannya) saja yang diperkenankan untuk
menziarahinya selepas Tarawih sekedar untuk menyuguhkan secangkir atau dua
cangkir teh. Mereka berkhidmat sesingkat mungkin kepada Maulana. Tulisan ini bukan
sekedar menunjukkan kebiasaan mereka saja, tanpa ada manfaat apa pun, tetapi untuk
meningkatkan semangat kita semampu mungkin agar bisa mengikuti jejak langkah
mereka, sehingga kita bisa menumpukan perhatian kita terhadap bulan ini,
khususnya untuk diri kita sendiri, dan juga memikirkan agar orang lain
memperhatikan bulan Ramadhan.
Sungguh berbahagialah orang yang tidak terikat dengan
pekerjaan dunia dan berusaha memperbaiki kehidupan mereka dalam satu bulan ini Setelah
menyia-nyiakan waktunya selama sebelas bulan lainnya. Apakah Sulitnya bagi
seorang pekerja kantoran yang biasa berada dikantor pukul sepuluh pagi hingga pukul empat sore.
Setidaknya ia dapat meluangkan waktunya sebentar saja hingga pukul sepuluh pagi
untuk membaca Al Quran dalam bulan yang penuh dengan keberkahan ini. Di
tengah-tengah kesibukan dunia semasa kita berada di kantor, cobalah mencari
waktu-waktu luang di luar jam kerja untuk membaca Al-Our'an. Sedangkan bagi para
petani yang biasanya bekerja sendiri, jelas tidak ada halangan bagi mereka
untuk membaca Al-Qur'an pada jam kerja mereka, karena tidak ada yang mengikat
waktu kerjanya. Ia bisa mengubah waktu kerjanya sekehendaknya. Ataupun sambil
menunggui sawah ia bisa mengerjakannya dengan duduk-duduk sambil membaca
Al-Our'an. Begitu juga bagi para pedagang yang sering tidak mempunyai waktu,
cobalah mengurangi waktu di tokonya, atau kalau tidak, ia bisa membaca
Al-Our'an sambil menunggui tokonya. Karena bulan Ramadhan yang penuh dengan
berkah ini sangatlah berkaitan dengan membaca Al-Our'an.
Karena itulah Allah s.w.t. telah menurunkan kitab-kitab
suci-Nya pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini jugalah Al-Our'an telah diturunkan
secara keseluruhan dari Lauhil-Mahfudz ke langit dunia, kemudian dari sanalah
diturunkan Al-Our'an secara berangsur-angsur mengikuti keadaan dan kejadian
ketika itu selama kurang lebih dua puluh tiga tahun lamanya. Selain itu, Nabi
Ibrahim a.s. juga telah menerima Shuhufnya pada hari pertama atau ketiga pada
bulan Ramadhan. Nabi Daud a.s. menerima shuhufnya pada hari kedua belas atau
kedelapan belas pada bulan ini. Nabi Musa a.s. menerima shuhufnya pada hari
keenam pada bulan ini. Nabi Isa a.s. menerima shuhufnya pada hari kedua belas
atau ketiga belas pada bulan Ramadhan. Berdasarkan inilah dapat kita katakan
bahwa bulan Ramadhan dan turunnya kitab-kitab suci sangat erat hubungannya.
Oleh karena itulah pada bulan ini hendaknya Al-Our'an
dibaca sebanyak-banyaknya. Inilah amalan Malaikat Jibril a.s. pada setiap bulan
Ramadhan yang membacakan seluruh Al-Qur'an untuk didengarkan oleh Rasulullah
s.a.w. Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. yang
membaca Al-Our'an dan Jibril a.s. mendengarkan.
Dengan menggabungkan kedua hadits tersebut, alim ulama
telah memutuskan bahwa adalah mustahab membaca Al-Our'an dan didengarkan oleh
seseorang pada bulan Ramadhan. Singkatnya, kapan saja ada waktu luang,
hendaknya kita pergunakan untuk membaca Al-Our'an. Jika masih ada juga waktu
luang setelah membaca Al-Our'an, maka jangan kita gunakan waktu tersebut dengan
sia-sia. Sebaiknya kita pergunakan waktu- waktu tersebut dengan mengikuti apa yang
telah dinasihatkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam akhir hadits di atas. Yaitu
Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan dan memerintahkan untuk menggunakan
sisa-sisa waktu kita pada bulan Ramadhan ini dengan memperbanyak empat
perkataan: Kalimat Thayyibah, Istighfar, berdoa memohon Surga, dan meminta dijauhkan
dari Neraka. Untuk itu kapan saja kita mempunyai waktu luang, hendaknya kita
pergunakan dengan mengerjakan amalan-amalan yang telah dianjurkan oleh
Rasulullah s.a.w.. Anggaplah hal ini sebagai suatu kebahagian kita dalam
menunaikan hal yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Apa sulitnya bagi kita jika di tengah-tengah urusan
keduniaan bibir kita selalu sibuk berdzikir mengucapkan kalimat Thayibah
ataupun beristighfar. Sedangkan kata-kata tersebut akan terus menyertai kita
nanti. Setelah itu Rasulullah s.a.w. menerangkan sedikit tentang keistimewaan
dan tata tertib pada bulan Ramadhan. Pertama beliau bersabda bahwa bulan ini
adalah bulan kesabaran. Yaitu jika dalam bulan Ramadhan ini ketika kita berpuasa
atau beribadah lainnya, kemudian ada sedikit kesulitan yang kita jumpai,
hendaknya ada semangat dan keinginan untuk tetap bersabar dan menahan diri.
Jangan sekali-kali langsung marah dan berbuat tidak menentu, seperti kebiasaan
kebanyakan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan pada musim panas.
Begitu juga, jika tanpa sengaja tidak melaksanakan sahur,
hendaknya pada pagi harinya tetap berniat mengerjakan puasa. Demikian pula bila
ada kesulitan dengan shalat tarawih, hendaknya dengan penuh kegembiraan kita
mencoba untuk tabah dalam mengerjakannya. Jangan menganggap shalat Tarawih
sebagai musibah atau penyakit yang menyusahkan. Sangatlah mengherankan jika ada
yang beranggapan demikian. Sekarang ini, untuk urusan keduniaan yang sepele,
kita sanggup menahan lapar, haus, kurang istirahat, dan kesusahan lainnya.
Apalah artinya kesusahan tersebut jika dibandingkan dengan kesusahan untuk
mendapatkan ridha Ilahi?
Kemudian beliau mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan bersimpati,
yaitu turut merasakan penderitaan kaum fakir dan miskin. Jika ada sepuluh
makanan yang telah disiapkan untuk berbuka, hendaknya dua atau empat makanan
darinya disediakan untuk fakir miskin. Walaupun kita tidak dapat memberikan
pelayanan yang lebih istimewa kepada diri mereka sebagaimana kepada diri kita
sendiri, tetapi seberapa pun makanan yang telah disiapkan untuk berbuka atau
sahur kita, setidaknya ada sebagian yang kita sediakan untuk kaum fakir miskin.
Demi teladan mereka terhadap ummat ini, para sahabat r.a.
dalam Setiap amalan mereka berusaha menunjukkan contoh teladan sejelas Mungkin.
Dalam setiap amalan agama mereka terdapat contoh dan suri tauladan yang paling
baik. Mengikuti petunjuk dan Suri tauladan mereka dalam hidup ini adalah
tanggung jawab yang perlu diwujudkan dalam hati kita. Ratusan bahkan ribuan
kisan-kisah dalam perjalanan hidup mereka, Jika kita saksikan akan mengherankan
diri kita.
Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang diceritakan
oleh Abu Jahm ra ketika dalam perang Yarmuk, "Saya berusaha mencari sepupunya
yang juga turut dalam peperangan tersebut. Saya telah bersiap-siap dengan membawa sekantung air dari kulit sekedar
bersiap-siap untuk mengobati luka, dan sisanya dapat diminum bila kehausan.
Kemudian saya jumpai bahwa ia berada dalam kalangan orang-orang yang telah
cedera dan terluka dalam perang. Sepupuku memberi isyarat padaku untuk meminta
air. Pada saat yang sama, ada orang di sampingnya yang Juga terluka dan ia pun sangat
memerlukan air. Sepupuku memberi isyarat kepadaku agar aku pergi kepada orang
itu, dan memberikan air yang kubawa untuknya. Aku mendatanginya, ternyata ia
begitu kehausan dan meminta air dariku. Ketika hampir saja ia meminumnya,
tiba-tiba ada rintihan orang lain di sebelahnya yang juga terluka. Maka orang
yang hampir minum tadi menyuruhku untuk mendatanginya, aku pun berjalan
menghampirinya. Tetapi ketika aku tiba di sisinya, rupanya jiwanya telah
terkeluar dari raganya. Aku segera kembali kepada orang yang kedua, ternyata ia
juga telah meninggal dunia, kemudian segera aku berlari ke arah sepupuku.
Setelah sampai, ternyata ia pun telah gugur fisabilillah.
Inilah suri teladan orang-orang terdahulu. Dirinya
sendiri berada dalam kehausan yang sangat, tetapi demi keselamatan orang lain,
padahal tidak ada hubungan keluarga, dia merelakan nyawanya. Semoga Allah meridhai
mereka. Ya Allah, ridhailah mereka dan berilah kepada kami taufiq untuk dapat
mengikuti mereka, Amin.
Dalam kitab Ruhul-bayan atau Imam Suyuthi rah.a. dalam
Jamiush-Shagir atau Al-Maghasid-nya Sakhawi rah.a., satu hadits telah
diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Di
antara umatku, pada setiap waktunya ada lima ratus orang hamba pilihan dan akan
selalu ada empat puluh orang wali Allah. Jika ada seorang di antara mereka yang
meninggal dunia, maka langsung akan ada lagi penggantinya." Para sahabat r.a.
bertanya, "Apa amalan mereka yang khusus?" Rasulullah s.a.w. menjawab,
"Mereka memaafkan para pendzalim, mereka berbuat ihsan kepada ahli
maksiat, dan mereka penuh kehawatiran dan kerisauan akan keadaan manusia."
Dalam hadits yang lain disebutkan, "Barang siapa
memberi makan kepada orang yang lapar, dan memberi pakaian kepada orang yang telanjang,
atau memberi tempat bernaung bagi musafir, maka Allah s.wit. akan memberi
perlindungan kepadanya pada hari Kiamat."
Setiap tahunnya, Yahya Barmaki rah.a selalu memberikan
seribu dirham kepada Sufyan Ats-Tsauri. Maka dalam sujudnya, Sufyan Tsauri selalu
mendoakan Yahya Barmaki rah.a.. Beliau berdoa, "Ya Allah! Yahya telah
mencukupi keperluan dunia saya, maka wahai Allah ! cukupkanlah keperluan
akhirat baginya." Kemudian ketika Yahya rah.a meninggal dunia, maka
orang-orang bermimpi. Dalam mimpinya mereka bertanya tentang keadaannya, beliau
menjawab, "Disebabkan oleh doa Sufyan, Allah s.w.t. mengampuni dosa-dosaku."
Selanjutnya Rasulullah s.a.w, terlah menyebutkan
keutamaan puasa dan berbuka. Dalam riwayat yang lain disebutkan "Barang
siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan ia mengajak orang lain untuk berbuka
dengan makanan dari usahanya yang halal, maka Allah s.w.t. pada malam itu akan mengirim
rahmat-Nya melalui para malaikat-Nya dan pada malam Lailatul-Qadar Jibril a.s.
akan berjabat tangan dengannya. Dan barang siapa yang berjabat tangan dengan
Jibril, hatinya akan menjadi lembut dan matanya akan mudah menangis."
Hamad bin Salamah rah.a adalah seorang muhaddits yang
terkenal: Mereka mempunyai kebiasaan, setiap hari memberi makan kepada lima puluh
orang yang berpuasa.
Setelah Rasulullah s.a.w. bersabda tentang keutamaan
berbuka, kemudian beliau bersabda, "Bagian pertama dari bulan Ramadhan
adalah rahmat yaitu hal yang paling dikhususkan pemberiannya oleh Allah s.w.t.,
dan rahmat ini adalah untuk umum, untuk seluruh kaum muslimin. Kemudian bagi
orang-orang yang bersyukur atas rahmat ini, maka Allah menambahkan lagi rahmat
tersebut sesuai dengan firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَكُمْ
Bagian kedua dari bulan Ramadhan adalah maghfirah. Pada
hari itu Allah s.w.t memuliakan orang-orang beriman dengan maghfirah dan ampunan.
Kemudian bagian yang terakhir ralah dihindarkan dari api neraka.
Masih banyak hadits lainnya yang menyebutkan tentang
kebebasan dari api neraka pada akhir bulan Ramadhan.
Menurut pandangan saya, Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian.
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas yaitu: rahmat, maghfirah, dan
dibebaskan dari api neraka. Dibagi menjadi tiga bagian karena manusia itu sendiri
dibagi menjadi tiga macam: Pertama adalah orang-orang yang tidak terbebani
dengan dosa, mereka adalah orang-orang yang telah mendapat curahan ralumat dan
nikmat. Yang kedua adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa ringan. Berkat
puasa mereka, dosa-dosa mereka diganti dengan ampunan setelah beberapa hari
berpuasa. Yang ketiga adalah Orang-orang yang sering melakukan dosa-dosa besar.
Setelah berpuasa, mereka akan dibebaskan dari api neraka.
Orang-orang yang telah mendapatkan rahmat pada
permulaannya dan dosa-dosa mereka telah diampuni, maka jika ditanyakan kepada
mereka tentang hal tersebut, mereka mengakui telah menerima ni'mat yang tidak terhingga
banyaknya (wallaahu a'lam dan ilmu-Nya lebih sempurna).
Kemudian Rasulullah s.a.w. memasukkan semangat dalam diri
Sahabat-sahabatnya dengan hal-hal lainya. yaitu agar para majikan dan tuan-tuan
dalam bulan Ramadhan ani hendaklah bersikap lembut kepada orang-orang bawahannya,
karena mereka pun dalam keadaan berpuasa, Jika menambah beban pekerjaan mereka
dalam bulan Ramadhan berarti memberatkan puasa mereka. Jika pekerjaan mereka
banyak, maka Mengapa tidak mengupah pekerja lain. Hat ini dilakukan jika
perkerjaan banyak, tetapi jika pembantu tersebut tidak berpuasa, maka antara
bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan adalah sama saja. Dan yang lebih zalim
lagi adalah jika si tuan sendiri tidak berpuasa, tetapi tapi memberikan
Pekerjaan berat kepada para pembantunya yang sedang dalam keadaan berpuasa, Ditambah
lagi, jika mereka melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, maka mereka dimarahi.
Kemudian Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan kepada para
Sahabatnya agar memperbanyak empat hal dalam bulan Ramadhan. Yang pertama adalah
memperbanyak bacaan Laa ilaaha Illallaahu. Sebagaimana disebutkan dalam
beberapa hadits bahwa dzikir yang paling afdhal adalah Laa Ilaha Illallahu.
Dalam kitab Al-Misykat dengan riwayat dari Abu
Sa'id Alkhudri ra. bahwa suatu kali Nabi Musa a.s. telah berkata kepada Allah
s.wt., "Wahai Allah, Berilah kepadaku suatu doa yang dengan kalimat
tersebut aku dapat mengingat-Mu." Kemudian Allah s.w.t. mengajarkan
kepadanya dengan perintah agar membaca kalimat Laa ilaaha illallaahu.
Nabi Musa a.s. berkata, "Wahai Allah, kalimat ini telah Engkau berikan
kepada seluruh hamba-Mu." Allah s.wt. menjawab, "Wahai Musa, Jika
tujuh lapis langit beserta isinya termasuk malaikat dan tujuh lapis bumi
diletakkan di atas timbangan dan di sebelah lainnya diletakkan kalimat Thayibah,
maka kalimat tersebut akan lebih berat."
Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa barang siapa
mengucapkan kalimat syahadat dengan ikhlas maka pintu langit akan langsung
terbuka dan terus akan sampai ke Arsy Allah s.w.t. tanpa ada halangan sedikit
pun.Tetapi dengan syarat Orang yang mengucapkan kalimat tersebut harus berusaha
menghindari dosa-dosa besar. Inilah yang menjadi kebiasaan Allah s.w.t. Dengan
rahmat-Nya yang luas dan tidak terbatas Dia memenuhi segala kehendak.
Jika diperhatikan, benda apa saja yang banyak dibutuhkan
di Dunia ini, maka Allah s.w.t. akan memperbanyak jumlah benda tersebut. Contohnya
air. Air adalah keperluan umum dan banyak dibutuhkan oleh semua orang. Maka
Allah s.wt. dengan Rahmat-Nya sangat memudahkan dalam memperoleh air tersebut.
Sedangkan benda yang kurang dibutuhkan, maka Allah S.W.t. menciptakan barang
tersebut dengan jumlah yang sedikit saja, seperti emas dan benda-benda yang
kurang dibutuhkan.
Begitu juga dengan kalimah thayyibah sebagai dzikir yang
paling utama. Dalam berbagai macam riwayat hadits dapat diketahui mengenai keutamaan
dzikir tersebut daripada dzikir-dzikir yang lain. Dan Allah swt telah
memudahkan untuk memperolehnya. Bahkan ini adalah sesuatu yang paling mudah
dalam mendapatkannya. Tidak ada yang menghalangi untuk mendapatkan
Keutamaannya, Siapa saja yang terhalangi dari mendapatkan keutamaanya, berarti
ia telah memperoleh kerugian. Karena banyak sekali hadits-hadits yang
menyatakan kcutamaannya yang cukup saya ringkas menjadi beberapa hadits saja.
Perkara kedua yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. agar diperbanyak
dalam bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas adalah agar
memperbanyak Istighfar. Banyak hadits yang telah diriwayatkan yang berhubungan
dengan keutamaan isighfar.
Dalam sebuah hadus diriwayatkan bahwa barang siapa selalu
memperbanyak istighfar maka Allah s.wt. akan memberikan kepadanya jalan keluar
dari setiap permasalahannya, dan akan membahagiakannya dalam setiap kesusahan,
dan akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dalam hadits yang lain juga dinyatakan bahwa manusia
selalu melakukan kesalahan dan dosa, dan sebaik-baik pendosa ialah yang bertaubat.
Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa akan datang suatu masa yang dekat,
yaitu jika seseorang melakukan satu dosa maka satu titik hitam akan menodai
hatinya. Jika ia bertaubat maka titik itu akan terhapus, jika udak bertaubat
maka titik hitam tersebutakan terus menutupi hati.
Kemudian Rasulullah s.a.w. menyebutkan dua hal yang
dianjurkan agar kita selalu memintanya selama bulan Ramadhan, yaitu memohon
agar dapat masuk surga dan dijauhkan dani neraka Jahannam.
Semoga Allah s.w.t. selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada
saya, juga kepada saudara.

Komentar
Posting Komentar