Hadist 1 (Keistimewaan Amalan orang-orang yang memberi makan orang yang berpuasa)


عَنْ سَلْمَانَ رضِبىَ الله عَنَهُ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلَمْ فِى أَخِرِ يَوْمٍ مِّنَ شَعْبَانَ فَقَالَ يآيُّهَا النَّاسُ قَذ أَظَلَّكُمْ شَهْرعَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرَ مِّنْ أَلْفِ شَهْرِشَهْرٌ جَعَلَ الله صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعَا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِى مَا سَوَاهُ مَنْ اَدَّى فَرِيضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ اَدًى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَاسِوَاهُ وَهُوَسَهْرُ الصَبْرِوالصَبْرُ ثَوَابُهُ جَنَّةُ وَشَهَرُ الْمُوَاسَاةِ وَشَهْرٌيُزَادُ فِى رِزْقُ الْمُؤْمِنِ فِيْهِ مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمَا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَكَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنَ أَجْرِهِ ِشَيْءٌ : قَالُوْ:يَا رَسُوْلُ الله لَيْسَ كُلَّنا يُجِدُ مَايُفَطِّرُ الصَّائِمَ. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلَمْ : يُعطِى الله هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَّائِمًا عَلَى تَمْرَةٌ أَوْ شَرْبَهِ مَاءٍ أَوْمَذْقَةِ لَبَنٍ وَهُوَ شَهْرٌ أَوْلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهُ عِتْقٌ مٍنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَّمْلُوْكِهِ فِيْهِ عَفَرَاللّٰهُ لَهُ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِوَاسْتَكْثِرُوْافِيْهِ مِنْ أَرَبَعِ خِصَالٍ خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا ربَكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَغِنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ الَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَكُمْ فَشَهَادَةٌ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلَّا للّٰهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ الَّتَانِ اللقان لا غِنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَافَسْئَلُوْنَ الله الجَنَّةَ وتَعَوَدُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَمَنْ سَقَى صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِى بَشَرْبَةً لَا يَظْمَأُحَتَّى يَدْخُلَ الجنةْ  {رواه ابن خزيمة وراه البيهقى}

Diriwayatkan dari Salman r.a., dia berkata, "Rasulullah s.a.w. telah memberi khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya'ban, kemudian beliau bersabda, “Wahai manusia, sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah telah menjadikan puasa sebagai fardhu dan bangun malam sebagai sunnat. Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa melakukan amalan fardhu di dalamnya maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lainnya. Inilah bulan kesabaran, dan pahala sabar adalah surga. Inilah bulan kasih-sayang, bulan saat rezeky seorang mukmin ditambahkan. Barang siapa pada bulan tersebut memberi buka kepada Orang yang berpuasa maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurang pahala orang itu Mereka berkata. "Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau bersabda, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang membera buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu. Inilah bulan yang awal nya penuh rahmat, tengahnya penuh ampunan, dan akhirnya penuh kebebasan dari api neraka. Barangsiapa meringankan beban hamba-hamba sahayanya pada bulan itu maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.
Perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal. Dua diantaranya dapat menyukakan Tuhannya dan dua hal lainnya kamu pasti berhajat kepadanya. Adapun dua hal yang dengannya kamu dapat menyukakan Tuhanmu adalah: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kamu memohon ampun kepadaNya. Sedangkan dua hal yang kamu pasti berhajat kepadanya adalah: kamu memohon surga kepada Allah dan kamu berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagaku dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga"
ULASAN

Terdapat sedikit perbedaan di kalangan para ahli hadits mengenal makna hadits di atas. Tetapi karena keutamaan isinya dan Juga telah dikuatkan oleh banyak hadits lainnya, sehingga hadits ini dapat mereka terima.
Dari hadits di atas banyak sekali permasalahan yang dapat kita ketahui. Pertama, betapa besar perhatian Rasulullah s.a.w. terhadap bulan Ramadhan sehingga beliau telah berkhutbah mengenainya sejak akhir bulan Sya'ban. Dan secara khusus, Rasulullah SAW. telah menasehati dan memperingatkan para sahabatnya agar jangan sampai melewatkan satu detik pun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan kelalaian. Setelah memberikan nasihat tersebut, Rasulullah s.a.w. menerangkan keutamaan bulan Ramadhan dengan panjang lebar dan sekaligus memberikan petunjuk untuk mengerjakan beberapa amalan.

Yang pertama dari beberapa keutamaan bulan Ramadhan adalah malam Lailatul-Qadar yang keutamaannya secara khusus akan diterangkan dalam fasal selanjutnya pada lembaran berikut ini. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda bahwa Allah SWT. telah mewajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan Allah telah menjadikan shalat Tarawjh pada malam harinya sebagai sunnah. Hal tersebut betul-betul ditegaskan oleh Rasulullah SAW sehingga semua imam madzhab bersepakat bahwa shalat Tarawih adalah sunnah. Dalam kitab Al-Burhan telah ditulis bahwa seluruh kaum muslimin, kecuali kaum Rawafidh, tidak seorang pun yang menolak kesepakatan tersebut.
Maulana Syah Abdul Hag Muhaddits Dahlawi rah.a. dalam kitab Matsabata bis sunnah, yaitu dalam kitab figih telah menulis di dalamnya bahwa jika suatu masyarakat kota meninggalkan shalat Tarawih, maka pemerintah hendaknya memaksa mereka untuk mengadakannya.
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan di sini: Pada umumnya orang berpendapat bahwa hanya dengan mendengarkan Al-Qur’an dibacakan dalam shalat Tarawih di suatu masjid selama delapan atau sepuluh hari adalah telah mencukupi untuk mendapatkan pahala sunnah. Padahal sebenarnya ada dua sunnah yang berbeda. Pertama adalah sunnah mendengarkan atau membaca seluruh Al-Qur'an di dalam shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Dan yang kedua adalah shalat Tarawih pada setiap malam dalam bulan Ramadhan. Seperti inilah yang hendaknya dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni tidak meninggalkan salah satu di antara amalan tersebut.
Bagi orang yang dalam bulan Ramadhan sedang bersafar atau berpergian, atau dalam keadaan yang menyebabkan ia tidak bisa melaksanakan shalat Tarawih di suatu tempat, maka lebih baik baginya untuk membaca Al-Qur'an dalam beberapa hari pada permulaan Ramadhan sehingga tidak mengurangi bacaan Al-Qur’an-nya. Apabila ada kesempatan dimana saja untuk melaksanakan shalat Tarawih, hendaknya kita tidak ketinggalan mendengarkan bacaan Al-Ouran dalam Tarawih, dan pekerjaan kita juga tidak terbengkalai.

Setelah Rasulullah s.a.w. menerangkan tentang puasa dan Tarawih. Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk melaksanakan ibadah fardhu dan sunnah-sunnah lainnya. Pahala mengerjakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan disamakan dengan pahala mengerjakan amalan wajib pada selain bulan Ramadhan, dan pahala mengerjakan satu amalan wajib pada bulan Ramadhan disamakan dengan pahata mengerjakan tujuh puluh amalan wajib di luar bulan Ramadhan.
Dalam hal ini kita mesti memikirkan tentang kcadaan ibadah kita. Kita memerlukan amalan shalih. Oleh karena itu dalam bulan yang penuh keberkahan ini seharusnya kita memikirkan seberapa jauhkah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan dalam menambah amaian-amalan sunnah.
Salah satu contoh tentang keadaan kita saat ini dalam melaksanakan kewajiban adalah dalam mengerjakan shalat Shubuh. Setelah mengerjakan sahur, kita melanjutkan tidur lagi sehingga shalat Shubuh terlewatkan. Shalat berjamaah pun akhirnya sering tertinggal. Seharusnya kita bersyukur kepada Allah s.w.t. yang dengan kekuasaannya telah menentukan kewajiban kepada kita dan memberikan kenikmatan makan sahur. Cara mensyukuri nikmat-Nya adalah dengan menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan kepada kita. Tetapi ternyata sedikit demi sedikit justru kita meninggalkan kewajiban tersebut dan menggadhanya pada lain waktu. Padahal para ahli ushul telah berpendapat bahwa shalat tanpa berjama'ah adalah suatu kekurangan. Lagi pula Rasulullah s.a.w. telah bersabda bahwa tidak ada shalat bagi mereka yang tinggal bersebelahan dengan masjid kecuali shalat di masjid.
Dalam kitab Mazhahiril Hag ditulis bahwa jika seseorang mengerjakan shalat tidak dengan berjama'ah tanpa alasan yang kuat, kewajiban shalatnya sudah terpenuhi, tetapi pahalanya tidak ia dapatkan.
Begitu juga dengan shalat Maghrib, yang pada umumnya disebabkan sibuk melakukan iftar (berbuka puasa) sehingga shalat berjama'ah di masjid ditinggalkan. Yang pergi ke masjid pun tertinggal takbiratul-ula, bahkan sampai tertinggal raka'at pertama shalat Maghrib. Demikian pula pada saat shalat Isya', karena shalat Isya' begitu lama, maka banyak juga yang mengerjakan shalat Isya' sebelum waktunya. Inilah keadaan amalan kita pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, maka tiga amalan wajib lainnya diabaikan. Bahkan dari tiga amalan ini bisa menjadi lebih banyak lagi. Juga pada saat shalat Dhuhur, karena kita tidur sebelum Dhuhur (kailulah), maka shalat berjamaah Dhuhur pun tertinggal. Demikian pula dengan shalat Ashar Karena sibuk mempersiapkan makanan untuk ifthar, sehingga shalat berjama'ah Ashar Juga kita tinggalkan. Itulah hal-hal yang seharusnya kita renungkan, yakni sejauh manakah perhatian kita dalam menunaikan kewajiban pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika yang wajib saja demikian susah untuk ditunaikan, maka bagaimana pula dengan yang sunnah? Shalat Isyraq dan shalat Dhuha pada bulan Ramadhan sudah jelas sering kita tinggalkan karena tidur. Sedangkan shalat Awwabin, bagaimana kita bisa memperhatikannya, sedangkan kita sibuk dengan berbuka puasa? Karena khawatir dengan shalat Tarawih yang panjang setelah itu, akhirnya shalat Awwabin pun ditinggalkan, dan shalat tahajjud kita habis dipakai untuk makan sahur. Kemanakah amalan-amalan sunnah tersebut?
Beribu-ribu alasan bisa kita kemukakan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki waktu untuk mengerjakan amalan tersebut. Tetapi ternyata banyak juga hamba-hamba Allah yang mempunyai waktu sehingga dapat melaksakan amalan ibadah ini pada hari-hari yang berharga tersebut. Saya telah melihat sendiri keadaan ustadz saya, Maulana Khalil Ahmad (Nawwarullahu marqadahu) pada bulan-bulan Ramadhan. Walaupun dalam kondisi yang lemah, sakit, dan tua, tetapi beliau mampu membaca atau memperdengarkan Al-Qur'an setiap hari selepas shalat Maghrib pada bulan Ramadhan sebanyak satu seperempat juz. Setelah itu selama setengah jam, beliau mempergunakan waktunya untuk makan dan mempersiapkan shalat Tarawih. Beliau shalat tarawih selama dua setengah jam selama beliau berada di India, dan selama liga jam ketika beliau tinggal di Madinah Munawwarah. Kemudian beliau tidur dua atau tiga jam tergantung keadaan musimnya. Beliau membaca Al-Qur'an di dalam shalat Tahajud selama satu setengah jam sebelum Shubuh. Setelah itu, kadang- kadang beliau menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran atau mengerjakan wirid dan dzikir sampai waktu Shubuh. Setelah shalat Shubuh, beliau terus dalam keadan muragabah sampai waktu Isyraq (mulai terbit matahari). Setelah Isyraq, beliau beristirahat kurang lebih satu jam lamanya. Setelah itu beliau menyibukkan diri menulis sebuah kitab syarah hadits Abu Daud yaitu kitab Badzlul Majhud atau membaca surat-surat dan menuliskan balasannya sampai pukul dua belas siang pada musim dingin, jika musim panas sampai pukul satu. Kemudian beliau beristirahat kembali sampai waktu Dhuhur. Dari Dhuhur hingga waktu Ashar, beliau mempergunakan waktunya untuk membaca Al-Our'an. Mulai Ashar hingga Maghrib beliau menyibukkan diri dengan berdzikir atau kadang-kadang berbincang dengan para tamunya. Setelah menyelesaikan penulisan kitab Badzlul-Majhud, beliau meluangkan waktu sedikit untuk membaca Al-Qur'an dan mengkaji beberapa kitab agama lainnya. Pada waktu itu beliau sangat memperhatikan kitab Badzlul Majhud dan Wafaa ul wafaa'. Inilah amalan yang tetap dilakukan secara istiqamah oleh beliau dalam bulan- bulan Ramadhan dan tidak ada perubahan dalam pengamalannya. Amalan-amalan sunnah tersebut beliau amalkan secara terus menerus hingga sepanjang tahun. Dalam bulan Ramadhan, beliau menambah jumlah rakaat shalat-shalat sunnahnya. Masih banyak lagi dari kalangan Masyaikh yang dalam bulan Ramadhan memiliki amalan-amalan tertentu yang lebih banyak. Jika kita mengikutinya tentu sangat sulit.
Maulana Syaikhul Hind rah.a setelah shalat Tarawih menyibukkan diri dengan shalat-shalat sunnah hingga waktu shubuh. Setelah itu beliau mendengarkan bacaan Al-Qur'an murid-muridnya, yakni para Hafidz Al-Qur'an. Maulana Syaikh Abdurrahim Raipuri dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini selalu menghabiskan masanya baik siang ataupun malam dengan membaca Al-Qur'an, sehingga tidak ada waktu untuk menulis surat maupun berkunjung ke rumah orang lain. Hanya khadim-khadimnya (pelayan-pelayannya) saja yang diperkenankan untuk menziarahinya selepas Tarawih sekedar untuk menyuguhkan secangkir atau dua cangkir teh. Mereka berkhidmat sesingkat mungkin kepada Maulana. Tulisan ini bukan sekedar menunjukkan kebiasaan mereka saja, tanpa ada manfaat apa pun, tetapi untuk meningkatkan semangat kita semampu mungkin agar bisa mengikuti jejak langkah mereka, sehingga kita bisa menumpukan perhatian kita terhadap bulan ini, khususnya untuk diri kita sendiri, dan juga memikirkan agar orang lain memperhatikan bulan Ramadhan.
Sungguh berbahagialah orang yang tidak terikat dengan pekerjaan dunia dan berusaha memperbaiki kehidupan mereka dalam satu bulan ini Setelah menyia-nyiakan waktunya selama sebelas bulan lainnya. Apakah Sulitnya bagi seorang pekerja kantoran yang biasa berada dikantor pukul  sepuluh pagi hingga pukul empat sore. Setidaknya ia dapat meluangkan waktunya sebentar saja hingga pukul sepuluh pagi untuk membaca Al Quran dalam bulan yang penuh dengan keberkahan ini. Di tengah-tengah kesibukan dunia semasa kita berada di kantor, cobalah mencari waktu-waktu luang di luar jam kerja untuk membaca Al-Our'an. Sedangkan bagi para petani yang biasanya bekerja sendiri, jelas tidak ada halangan bagi mereka untuk membaca Al-Qur'an pada jam kerja mereka, karena tidak ada yang mengikat waktu kerjanya. Ia bisa mengubah waktu kerjanya sekehendaknya. Ataupun sambil menunggui sawah ia bisa mengerjakannya dengan duduk-duduk sambil membaca Al-Our'an. Begitu juga bagi para pedagang yang sering tidak mempunyai waktu, cobalah mengurangi waktu di tokonya, atau kalau tidak, ia bisa membaca Al-Our'an sambil menunggui tokonya. Karena bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah ini sangatlah berkaitan dengan membaca Al-Our'an.

Karena itulah Allah s.w.t. telah menurunkan kitab-kitab suci-Nya pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini jugalah Al-Our'an telah diturunkan secara keseluruhan dari Lauhil-Mahfudz ke langit dunia, kemudian dari sanalah diturunkan Al-Our'an secara berangsur-angsur mengikuti keadaan dan kejadian ketika itu selama kurang lebih dua puluh tiga tahun lamanya. Selain itu, Nabi Ibrahim a.s. juga telah menerima Shuhufnya pada hari pertama atau ketiga pada bulan Ramadhan. Nabi Daud a.s. menerima shuhufnya pada hari kedua belas atau kedelapan belas pada bulan ini. Nabi Musa a.s. menerima shuhufnya pada hari keenam pada bulan ini. Nabi Isa a.s. menerima shuhufnya pada hari kedua belas atau ketiga belas pada bulan Ramadhan. Berdasarkan inilah dapat kita katakan bahwa bulan Ramadhan dan turunnya kitab-kitab suci sangat erat hubungannya.
Oleh karena itulah pada bulan ini hendaknya Al-Our'an dibaca sebanyak-banyaknya. Inilah amalan Malaikat Jibril a.s. pada setiap bulan Ramadhan yang membacakan seluruh Al-Qur'an untuk didengarkan oleh Rasulullah s.a.w. Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. yang membaca Al-Our'an dan Jibril a.s. mendengarkan.

Dengan menggabungkan kedua hadits tersebut, alim ulama telah memutuskan bahwa adalah mustahab membaca Al-Our'an dan didengarkan oleh seseorang pada bulan Ramadhan. Singkatnya, kapan saja ada waktu luang, hendaknya kita pergunakan untuk membaca Al-Our'an. Jika masih ada juga waktu luang setelah membaca Al-Our'an, maka jangan kita gunakan waktu tersebut dengan sia-sia. Sebaiknya kita pergunakan waktu- waktu tersebut dengan mengikuti apa yang telah dinasihatkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam akhir hadits di atas. Yaitu Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan dan memerintahkan untuk menggunakan sisa-sisa waktu kita pada bulan Ramadhan ini dengan memperbanyak empat perkataan: Kalimat Thayyibah, Istighfar, berdoa memohon Surga, dan meminta dijauhkan dari Neraka. Untuk itu kapan saja kita mempunyai waktu luang, hendaknya kita pergunakan dengan mengerjakan amalan-amalan yang telah dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w.. Anggaplah hal ini sebagai suatu kebahagian kita dalam menunaikan hal yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Apa sulitnya bagi kita jika di tengah-tengah urusan keduniaan bibir kita selalu sibuk berdzikir mengucapkan kalimat Thayibah ataupun beristighfar. Sedangkan kata-kata tersebut akan terus menyertai kita nanti. Setelah itu Rasulullah s.a.w. menerangkan sedikit tentang keistimewaan dan tata tertib pada bulan Ramadhan. Pertama beliau bersabda bahwa bulan ini adalah bulan kesabaran. Yaitu jika dalam bulan Ramadhan ini ketika kita berpuasa atau beribadah lainnya, kemudian ada sedikit kesulitan yang kita jumpai, hendaknya ada semangat dan keinginan untuk tetap bersabar dan menahan diri. Jangan sekali-kali langsung marah dan berbuat tidak menentu, seperti kebiasaan kebanyakan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan pada musim panas.

Begitu juga, jika tanpa sengaja tidak melaksanakan sahur, hendaknya pada pagi harinya tetap berniat mengerjakan puasa. Demikian pula bila ada kesulitan dengan shalat tarawih, hendaknya dengan penuh kegembiraan kita mencoba untuk tabah dalam mengerjakannya. Jangan menganggap shalat Tarawih sebagai musibah atau penyakit yang menyusahkan. Sangatlah mengherankan jika ada yang beranggapan demikian. Sekarang ini, untuk urusan keduniaan yang sepele, kita sanggup menahan lapar, haus, kurang istirahat, dan kesusahan lainnya. Apalah artinya kesusahan tersebut jika dibandingkan dengan kesusahan untuk mendapatkan ridha Ilahi?
Kemudian beliau mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan bersimpati, yaitu turut merasakan penderitaan kaum fakir dan miskin. Jika ada sepuluh makanan yang telah disiapkan untuk berbuka, hendaknya dua atau empat makanan darinya disediakan untuk fakir miskin. Walaupun kita tidak dapat memberikan pelayanan yang lebih istimewa kepada diri mereka sebagaimana kepada diri kita sendiri, tetapi seberapa pun makanan yang telah disiapkan untuk berbuka atau sahur kita, setidaknya ada sebagian yang kita sediakan untuk kaum fakir miskin.
Demi teladan mereka terhadap ummat ini, para sahabat r.a. dalam Setiap amalan mereka berusaha menunjukkan contoh teladan sejelas Mungkin. Dalam setiap amalan agama mereka terdapat contoh dan suri tauladan yang paling baik. Mengikuti petunjuk dan Suri tauladan mereka dalam hidup ini adalah tanggung jawab yang perlu diwujudkan dalam hati kita. Ratusan bahkan ribuan kisan-kisah dalam perjalanan hidup mereka, Jika kita saksikan akan mengherankan diri kita.
Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang diceritakan oleh Abu Jahm ra ketika dalam perang Yarmuk, "Saya berusaha mencari sepupunya yang juga turut dalam peperangan tersebut. Saya telah bersiap-siap dengan  membawa sekantung air dari kulit sekedar bersiap-siap untuk mengobati luka, dan sisanya dapat diminum bila kehausan. Kemudian saya jumpai bahwa ia berada dalam kalangan orang-orang yang telah cedera dan terluka dalam perang. Sepupuku memberi isyarat padaku untuk meminta air. Pada saat yang sama, ada orang di sampingnya yang Juga terluka dan ia pun sangat memerlukan air. Sepupuku memberi isyarat kepadaku agar aku pergi kepada orang itu, dan memberikan air yang kubawa untuknya. Aku mendatanginya, ternyata ia begitu kehausan dan meminta air dariku. Ketika hampir saja ia meminumnya, tiba-tiba ada rintihan orang lain di sebelahnya yang juga terluka. Maka orang yang hampir minum tadi menyuruhku untuk mendatanginya, aku pun berjalan menghampirinya. Tetapi ketika aku tiba di sisinya, rupanya jiwanya telah terkeluar dari raganya. Aku segera kembali kepada orang yang kedua, ternyata ia juga telah meninggal dunia, kemudian segera aku berlari ke arah sepupuku. Setelah sampai, ternyata ia pun telah gugur fisabilillah.
Inilah suri teladan orang-orang terdahulu. Dirinya sendiri berada dalam kehausan yang sangat, tetapi demi keselamatan orang lain, padahal tidak ada hubungan keluarga, dia merelakan nyawanya. Semoga Allah meridhai mereka. Ya Allah, ridhailah mereka dan berilah kepada kami taufiq untuk dapat mengikuti mereka, Amin.
Dalam kitab Ruhul-bayan atau Imam Suyuthi rah.a. dalam Jamiush-Shagir atau Al-Maghasid-nya Sakhawi rah.a., satu hadits telah diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Di antara umatku, pada setiap waktunya ada lima ratus orang hamba pilihan dan akan selalu ada empat puluh orang wali Allah. Jika ada seorang di antara mereka yang meninggal dunia, maka langsung akan ada lagi penggantinya." Para sahabat r.a. bertanya, "Apa amalan mereka yang khusus?" Rasulullah s.a.w. menjawab, "Mereka memaafkan para pendzalim, mereka berbuat ihsan kepada ahli maksiat, dan mereka penuh kehawatiran dan kerisauan akan keadaan manusia."
Dalam hadits yang lain disebutkan, "Barang siapa memberi makan kepada orang yang lapar, dan memberi pakaian kepada orang yang telanjang, atau memberi tempat bernaung bagi musafir, maka Allah s.wit. akan memberi perlindungan kepadanya pada hari Kiamat."
Setiap tahunnya, Yahya Barmaki rah.a selalu memberikan seribu dirham kepada Sufyan Ats-Tsauri. Maka dalam sujudnya, Sufyan Tsauri selalu mendoakan Yahya Barmaki rah.a.. Beliau berdoa, "Ya Allah! Yahya telah mencukupi keperluan dunia saya, maka wahai Allah ! cukupkanlah keperluan akhirat baginya." Kemudian ketika Yahya rah.a meninggal dunia, maka orang-orang bermimpi. Dalam mimpinya mereka bertanya tentang keadaannya, beliau menjawab, "Disebabkan oleh doa Sufyan, Allah s.w.t. mengampuni dosa-dosaku."
Selanjutnya Rasulullah s.a.w, terlah menyebutkan keutamaan puasa dan berbuka. Dalam riwayat yang lain disebutkan "Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan ia mengajak orang lain untuk berbuka dengan makanan dari usahanya yang halal, maka Allah s.w.t. pada malam itu akan mengirim rahmat-Nya melalui para malaikat-Nya dan pada malam Lailatul-Qadar Jibril a.s. akan berjabat tangan dengannya. Dan barang siapa yang berjabat tangan dengan Jibril, hatinya akan menjadi lembut dan matanya akan mudah menangis."
Hamad bin Salamah rah.a adalah seorang muhaddits yang terkenal: Mereka mempunyai kebiasaan, setiap hari memberi makan kepada lima puluh orang yang berpuasa.
Setelah Rasulullah s.a.w. bersabda tentang keutamaan berbuka, kemudian beliau bersabda, "Bagian pertama dari bulan Ramadhan adalah rahmat yaitu hal yang paling dikhususkan pemberiannya oleh Allah s.w.t., dan rahmat ini adalah untuk umum, untuk seluruh kaum muslimin. Kemudian bagi orang-orang yang bersyukur atas rahmat ini, maka Allah menambahkan lagi rahmat tersebut sesuai dengan firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَكُمْ
Bagian kedua dari bulan Ramadhan adalah maghfirah. Pada hari itu Allah s.w.t memuliakan orang-orang beriman dengan maghfirah dan ampunan. Kemudian bagian yang terakhir ralah dihindarkan dari api neraka.
Masih banyak hadits lainnya yang menyebutkan tentang kebebasan dari api neraka pada akhir bulan Ramadhan.
Menurut pandangan saya, Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas yaitu: rahmat, maghfirah, dan dibebaskan dari api neraka. Dibagi menjadi tiga bagian karena manusia itu sendiri dibagi menjadi tiga macam: Pertama adalah orang-orang yang tidak terbebani dengan dosa, mereka adalah orang-orang yang telah mendapat curahan ralumat dan nikmat. Yang kedua adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa ringan. Berkat puasa mereka, dosa-dosa mereka diganti dengan ampunan setelah beberapa hari berpuasa. Yang ketiga adalah Orang-orang yang sering melakukan dosa-dosa besar. Setelah berpuasa, mereka akan dibebaskan dari api neraka.
Orang-orang yang telah mendapatkan rahmat pada permulaannya dan dosa-dosa mereka telah diampuni, maka jika ditanyakan kepada mereka tentang hal tersebut, mereka mengakui telah menerima ni'mat yang tidak terhingga banyaknya (wallaahu a'lam dan ilmu-Nya lebih sempurna).
Kemudian Rasulullah s.a.w. memasukkan semangat dalam diri Sahabat-sahabatnya dengan hal-hal lainya. yaitu agar para majikan dan tuan-tuan dalam bulan Ramadhan ani hendaklah bersikap lembut kepada orang-orang bawahannya, karena mereka pun dalam keadaan berpuasa, Jika menambah beban pekerjaan mereka dalam bulan Ramadhan berarti memberatkan puasa mereka. Jika pekerjaan mereka banyak, maka Mengapa tidak mengupah pekerja lain. Hat ini dilakukan jika perkerjaan banyak, tetapi jika pembantu tersebut tidak berpuasa, maka antara bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan adalah sama saja. Dan yang lebih zalim lagi adalah jika si tuan sendiri tidak berpuasa, tetapi tapi memberikan Pekerjaan berat kepada para pembantunya yang sedang dalam keadaan berpuasa, Ditambah lagi, jika mereka melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, maka mereka dimarahi.
Kemudian Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan kepada para Sahabatnya agar memperbanyak empat hal dalam bulan Ramadhan. Yang pertama adalah memperbanyak bacaan Laa ilaaha Illallaahu. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits bahwa dzikir yang paling afdhal adalah Laa Ilaha Illallahu.
Dalam kitab Al-Misykat dengan riwayat dari Abu Sa'id Alkhudri ra. bahwa suatu kali Nabi Musa a.s. telah berkata kepada Allah s.wt., "Wahai Allah, Berilah kepadaku suatu doa yang dengan kalimat tersebut aku dapat mengingat-Mu." Kemudian Allah s.w.t. mengajarkan kepadanya dengan perintah agar membaca kalimat Laa ilaaha illallaahu. Nabi Musa a.s. berkata, "Wahai Allah, kalimat ini telah Engkau berikan kepada seluruh hamba-Mu." Allah s.wt. menjawab, "Wahai Musa, Jika tujuh lapis langit beserta isinya termasuk malaikat dan tujuh lapis bumi diletakkan di atas timbangan dan di sebelah lainnya diletakkan kalimat Thayibah, maka kalimat tersebut akan lebih berat."
Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa barang siapa mengucapkan kalimat syahadat dengan ikhlas maka pintu langit akan langsung terbuka dan terus akan sampai ke Arsy Allah s.w.t. tanpa ada halangan sedikit pun.Tetapi dengan syarat Orang yang mengucapkan kalimat tersebut harus berusaha menghindari dosa-dosa besar. Inilah yang menjadi kebiasaan Allah s.w.t. Dengan rahmat-Nya yang luas dan tidak terbatas Dia memenuhi segala kehendak.
Jika diperhatikan, benda apa saja yang banyak dibutuhkan di Dunia ini, maka Allah s.w.t. akan memperbanyak jumlah benda tersebut. Contohnya air. Air adalah keperluan umum dan banyak dibutuhkan oleh semua orang. Maka Allah s.wt. dengan Rahmat-Nya sangat memudahkan dalam memperoleh air tersebut. Sedangkan benda yang kurang dibutuhkan, maka Allah S.W.t. menciptakan barang tersebut dengan jumlah yang sedikit saja, seperti emas dan benda-benda yang kurang dibutuhkan.
Begitu juga dengan kalimah thayyibah sebagai dzikir yang paling utama. Dalam berbagai macam riwayat hadits dapat diketahui mengenai keutamaan dzikir tersebut daripada dzikir-dzikir yang lain. Dan Allah swt telah memudahkan untuk memperolehnya. Bahkan ini adalah sesuatu yang paling mudah dalam mendapatkannya. Tidak ada yang menghalangi untuk mendapatkan Keutamaannya, Siapa saja yang terhalangi dari mendapatkan keutamaanya, berarti ia telah memperoleh kerugian. Karena banyak sekali hadits-hadits yang menyatakan kcutamaannya yang cukup saya ringkas menjadi beberapa hadits saja.

Perkara kedua yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. agar diperbanyak dalam bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas adalah agar memperbanyak Istighfar. Banyak hadits yang telah diriwayatkan yang berhubungan dengan keutamaan isighfar.
Dalam sebuah hadus diriwayatkan bahwa barang siapa selalu memperbanyak istighfar maka Allah s.wt. akan memberikan kepadanya jalan keluar dari setiap permasalahannya, dan akan membahagiakannya dalam setiap kesusahan, dan akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dalam hadits yang lain juga dinyatakan bahwa manusia selalu melakukan kesalahan dan dosa, dan sebaik-baik pendosa ialah yang bertaubat. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa akan datang suatu masa yang dekat, yaitu jika seseorang melakukan satu dosa maka satu titik hitam akan menodai hatinya. Jika ia bertaubat maka titik itu akan terhapus, jika udak bertaubat maka titik hitam tersebutakan terus menutupi hati.
Kemudian Rasulullah s.a.w. menyebutkan dua hal yang dianjurkan agar kita selalu memintanya selama bulan Ramadhan, yaitu memohon agar dapat masuk surga dan dijauhkan dani neraka Jahannam.
Semoga Allah s.w.t. selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada saya, juga kepada saudara.

Komentar